Rabu, 10 Agustus 2016

Journey Beyond the Lands #4: Baito

Sejak pertama kali tau dapet kesempatan untuk belajar ke Jepang (which was around 3years ago), gua bertekad untuk ga minta uang ke papa mama, dan hidup dari uang beasiswa serta uang penghasilan sendiri di Jepang. Sekitar masa itu juga, denger cerita kalo para senpai yang sudah mendahului dengan program yang sama, juga bisa beli beberapa barang lewat jerih payah sendiri, semacam kamera, baju, dan lain-lain. Malah ada senpai yang bisa beli DSLR sendiri setelah 1 tahun di Jepang.

Tahu tentang hal itu, praktislah gua yang rakus banyak maunya ini, udah kebayang-bayang beli kamera idaman, dan barang-barang idaman lainnya yang ga pernah bisa kebeli sewaktu masih di Indonesia.

Sesampai di Jepang, dan beberapa bulan setelahnya, alhamdulillah dapet kesempatan part time di kampus, tugasnya bersihin ruangan kelas dan lingkungan kampus secara umum, bertim dengan anak-anak Indonesia lain, dan/atau dipasangkan dengan mahasiswa dari negara lain. Itu pengalaman part time pertama di Jepang. Oiya, part time di Jepang itu lazim disebut arubaito, lebih disingkat lagi dengan baito, yang berakar dari kata arbeit, bahasa Jerman, yang artinya bekerja.