Jumat, 11 Maret 2016

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

(Disclaimer: Kisah yang akan Anda baca adalah murni pengalaman saya pribadi dan diceritakan dari sudut pandang saya yang terjadi di sekitar tahun 2009-2010. Kesalahan saya mengingat kejadian tahunan silam sangat mungkin terjadi, dan bahwa organisasi ybs sudah berubah, atau yang saya tulis di sini salah pun sangat memungkinkan. Kebijakan pembaca sangat diharapkan. Selamat membaca ^^ )

Belakangan ini kita sering membaca di media sosial, atau nonton berita dan melihat sebuah fenomena, Gafatar. Awal mula Gafatar jadi tenar adalah ketika dr. Rica kabur bersama anaknya yang masih balita dengan meninggalkan pesan bahwa dia tidak akan pergi lama dan akan kembali, karena dia mengemban suatu misi; ingin membangun masyarakat Islam yang lebih baik. Tapi dia menegaskan bahwa dia bukan pengikut ISIS, karena ternyata di kemudian hari terungkap bahwa dia adalah seorang pengikut Gafatar.

Kemudian satu demi satu kasus orang-orang yang hilang karena berafilisiasi dengan Gafatar semakin terbuka dan ketahuanlah, Gafatar ternyata sudah cukup lama berada di Indonesia dan banyak orang-orang yang telah hilang dan tidak (belum) kembali kepada keluarganya setelah sekian lama.  Para "korban" Gafatar ini kebanyakan orang-orang yang sudah dewasa, katakanlah sudah mapan, sudah berkeluarga. Meskipun ada juga para remaja yang masih duduk di bangku kuliah.

Tapi tulisan ini ini bukan ingin mengupas tentang Gafatar, melainkan tertuju pada kelompok lain yang sempat menyita perhatian umat muslim Indonesia, khususnya di daerah Jabodetabek beberapa bulan silam, yaitu Yayasan Al-Kahfi. Bagi yang sudah lupa tentang yayasan al-Kahfi, bisa menyegarkan lagi ingatannya lewat artikel ini atau video YouTube ini. Saya sempat kepo dan ternyata mereka juga punya akun YouTube serta website official.