Kamis, 22 Desember 2016

Rezeki Darimane Aje

Sedekah atau infak, itu menurut gue jadi sebuah 'metode' seorang Muslim 'nyogok' Allah supaya dikasih rezeki lebih. Sedekah jadi sebuah bentuk 'mengikhlaskan' sebagian atau seluruh harta kita untuk keperluan keagamaan atau sosial.

Di rumah, sejak kecil mama papa ngebiasain sedekah dari kecil. Dulu waktu masih SD setiap solat jumat pasti dibekelin duwit seribu perak buat dimasukin ke kotak amal. Kadang kalo mama lupa ngasih uang, maka gua otomatis ambil uang di dompet mama (tentunya setelah izin dulu). Meskipun emang kadang suka lupa (lupa bawa uang yah, bukan lupa masukin ke kotak amal), tapi kebiasaan untuk ngisi kotak amal alhamdulillah telah tertanam sejak kecil.

Selasa, 13 Desember 2016

I Found a Gem - Storytelling with Cinematography



DSLRguide. I just somehow found this channel and fell in love, instantly. I don't know who this guy is but just watched some of his videos, he taught me more than what I learned about cinematography and such (or actually I didn't learn anything up till now lol).

Instant subscribe, waiting for more from him. Yay.

Kamis, 08 Desember 2016

Malam


  Jumat malam, aku di sini lagi, di meja pojokan, tempat aku dan kamu pernah duduk berhadapan. Bangku dan meja yang mungil, desain interior yang dibuat seolah pengunjung berada di dunia anak-anak. Ketika melewati pintu masuk pun aku harus menunduk. Aku ingat, dulu aku mentertawakanmu yang tidak perlu menunduk ketika masuk ke sini, karena kamu lebih pendek. Namun kali ini, aku datang sendiri, membawa sepotong nostalgia. Bukan, bukan untuk mengenang, apalah arti mengenang bila hanya sendiri kulakukan. Bolehlah aku bilang ini, dipaksa berdamai. Ya, mungkin itu diksi yang lebih tepat.
  Meski samar, tapi aku masih ingat malam itu, ketika kita sepakat untuk meruntuhkan segala ego dan gengsi yang selama ini kita pakai sebagai topeng, bersembunyi dari tatap satu sama lain yang saling mencari kebenaran.

--**--

Rabu, 30 November 2016

Cinta Pertama Gue

Disclaimer: ditulis dalam keadaan ngantuk berat, kalau ada kata/kalimat yang kurang sinkron, maafken ea

Ini adalah gue, tahunan silam, kalau ga salah waktu kelas 2 atau 3 SMA. Scene-nya lagi konser di Ekalokasari Plaza (sekarang Lippo Mall), (mungkin) konser terakhir seumur hidup. Waktu itu inget banget, bawain Canon in D Major, lagu klasik terfavorit sepanjang masa.

Bisa dibilang, musik, lebih spesifiknya lagi keyboard/piano, itu adalah cinta pertama gue. Sebenernya lebih dulu jatuh cinta sama biola, inget guru TK dulu suka mainin biola, betapa kerennya doi. Tapi karena mama khawatir anaknya matanya jadi jéréng. Trus gue juga bilang pengennya drum aja, tapi katanya muka gue yang kalem ga cocok buat main drum yang sangar (oke ma). Yah, jadinya beliau ngasihnya keyboard, inget banget keyboard pertama itu dibeliin pas masih TK di Jepang, dan dibawa pulang ke Indonesia. Kondisinya sekarang mengenaskan, udah ga bisa nyala gara-gara adik paling kecil nyiram Nutrisari ke atasnya. Absurd kan.

Minggu, 27 November 2016

i'm ending the vlog



Casey Neistat. He is the inspiration for many filmmakers, or ordinary people like me, all over the globe. I saw this 1 comment said that he set the wave, show everyone how to ride it, and ride it himself to the shore. And now, everyone is trying to mimic him in their own way; DSLR with monopod shaped bendy tripod, fancy Rhode mic (some with dead cat on it), time lapse videos, shooting while riding a skateboard, and so on. He set the bar of how to properly vlog, for everyone.

Now, since he is living in NYC, and he daily uploaded his vlog on around 8 in the morning, NYC time, many westerners watch his video first before they start the day. Giving that condition, Casey's vlog often came late in Japan, usually midnight when I already slept, so sometimes when I lucky i watch it before I sleep (around 12 or so), or I watch it the morning after.

Selasa, 22 November 2016

Pagi


  "Aku besok pulang." katamu via aplikasi chat sore itu.
  "Wah udah pulang aja, padahal belum kemana-mana, belum sempet aku antar ke beberapa tempat menarik di sini." aku menjawab basa-basi, padahal jelas kamu yang menolak tawaran-tawaranku.
  "Iya, memang udah jadwalnya cuma sampai hari ini, pekerjaan juga sudah menunggu di sana. Tapi aku suka dengan negara ini, semoga lain waktu bisa datang lagi."
  "Semoga begitu ya, lain kali aku akan ajak kamu ke banyak tempat! Pesawat jam berapa besok?"
  "Pesawat pagi, supaya kami bisa sampai sana malam, dan lusa sudah kembali kerja seperti biasa, maklum sudah mau akhir tahun dan tutup buku, jadi lebih sibuk deh."
  "Begitu ya. Kalau gitu, mau aku antar sampai bandara? Pasti barang bawaan kamu banyak kan."
  "Eh, tidak apa-apa emangnya? Bukannya kamu ada kelas besok? Lagipula, aku akan pulang pagi-pagi benar." Kenapa, kenapa kamu masih menolakku bahkan hingga akhir begini?
  "Tidak apa-apa, semua bisa aku atur. Yang penting setidaknya aku bisa lihat kamu sebelum kamu terbang meninggalkan negeri ini." aku masih berusaha menawar.
  "Hmm, baiklah kalau begitu, kita ketemu di stasiun ya. Kemungkinan aku akan berangkat jam 6 dari stasiun, kamu gapapa?"
  Glek, jam 6. Seketika aku cek aplikasi peta, dan katanya aku harus berangkat jam 4.30, kereta pertama di hari itu.
  "Okelah ga masalah, kalau begitu sampai besok jam 6 pagi ya di stasiun, jangan lupa packing malam ini dan beli semua oleh-oleh yang diperlukan." kataku menutup pembicaraan.
--**--

Minggu, 13 November 2016

Memory

There are times when you make the precious moments, being at the top of the world. But also there are times when you just want to disappear from the world, vanished completely. Those times are needed to make our life sounded like a melody, beautiful to be heard. Like a piano, you can’t just play the white notes and hope for some falsetto voice, you also need to hit that black notes.
But human’s memory are limited, it can’t store that much, it tends to forget. That’s why we record, we write it down, we take photos, so we can revive it when we see those records. We revive the feeling, the emotion, the laughs, the tears, the memories. That’s the beauty of it, the beauty of looking back through the records. 
Will I be forgotten? Will I forget you? Will I ever be there? Will everything come to an end? Will the clock start ticking? Again, so many questions, but less answer I have.

Rabu, 09 November 2016

Cloud Storage


It was on early 2014 when I joined Radio PPI Dunia (further will be mentioned as RPD) for the first time. All of the crews are spread all over the world, to the 5 continents, thus cloud storage becomes our vital need. Before I got introduced with Google Drive, I already knew about another cloud service, that was Dropbox, but barely used it.

Practically, since I joined RPD, my interaction with cloud storage became more intense; it has become an inseparable part of my life (some hyperbolic shit here). But really, this cloud storage or cloud computing tech are making our world literally edgeless, spaceless; you and I can edit or view this one folder containing our project, no matter if you are far away at European country and I'm here in Japan. So damn futuristic, or could I say, we are in the future now.

Now just as any other storage, there must be a limitation to the size of the storage, it doesn't mean because it is the cloud, it got limitless storage. The default space for GDrive is 15GB, the biggest among 3 mainstream cloud storages (the other 2 are Dropbox with free 2GB and OneDrive from Microsoft with 5GB free storage). For some people, 15GB should be more than enough but not for me, I upgraded my cloud to 100GB, and I have to pay like 2USD per months, but nah, no sweat, I guess *lol.

Kamis, 27 Oktober 2016

Story Telling





Looking back at this year, I saw that I got inspired a lot by many internet (especially YouTube) personalities, such as Casey Neistat, Sara Dietschy, the guy at Unboxing Therapy, Mancuso guy with his Awkward Puppets, Schomoyoho, Ryan Higa and friends, and so many other YouTuber out there. It's like, they're living their dream, doing what they love, or even better, afford their living by doing what they love!

I've came to realization that the power of story-telling is enormous, something that I think, I'm suck at. I can't really tell other about this idea I want to share, and tends to end with tangled story. Sad, sad lyf. But hey, I believe that there is no late for learning and achieving isn't there? I always moved by this one of my friend who were a good story teller since junior high until now, and what I know I'm lacking is, I read less than him. So what I'm gonna do now is absorb as many as great story tellers' method of story telling, watch as many movie as possible, read as many book as possible, so I can tell good story as they do.

Without even realizing it, story-telling, has become one of my passion.

Jumat, 21 Oktober 2016

Lelaki Bermata Sendu Senja


Penghujung Oktober, seharusnya aku sudah mengeluarkan jaket-jaket dari lemari, dan mulai memakainya di keseharian, tapi sial, efek global warming jauh lebih parah dari dugaan semua orang. Di penghujung Oktober saja, kau masih bisa melihat banyak orang berlengan pendek atau anak-anak sekolah yang masih menaikkan roknya ke atas lutut. Padahal kupikir musim gugur telah datang, tapi berkat hujan di awal minggu kemarin, udara menghangat kembali dan terpaksa kuurungkan niat memakai windbreaker yang kubeli 2 minggu lalu.

Semua daun-daun di sekitar asramaku sudah rontok, hanya beberapa saja yang masih bertahan, itupun sudah berwarna coklat dan jika ada angin sedikit lebih kuat saja, mereka akan gugur, jatuh ke bawah. Hanya ada beberapa daun hijau yang bisa kulihat menjulur menggapai jendela kamarku, seakan berkata "Halo Shinji, ini sudah musim gugur tapi kami masih hijau loh."

Rabu, 10 Agustus 2016

Journey Beyond the Lands #4: Baito

Sejak pertama kali tau dapet kesempatan untuk belajar ke Jepang (which was around 3years ago), gua bertekad untuk ga minta uang ke papa mama, dan hidup dari uang beasiswa serta uang penghasilan sendiri di Jepang. Sekitar masa itu juga, denger cerita kalo para senpai yang sudah mendahului dengan program yang sama, juga bisa beli beberapa barang lewat jerih payah sendiri, semacam kamera, baju, dan lain-lain. Malah ada senpai yang bisa beli DSLR sendiri setelah 1 tahun di Jepang.

Tahu tentang hal itu, praktislah gua yang rakus banyak maunya ini, udah kebayang-bayang beli kamera idaman, dan barang-barang idaman lainnya yang ga pernah bisa kebeli sewaktu masih di Indonesia.

Sesampai di Jepang, dan beberapa bulan setelahnya, alhamdulillah dapet kesempatan part time di kampus, tugasnya bersihin ruangan kelas dan lingkungan kampus secara umum, bertim dengan anak-anak Indonesia lain, dan/atau dipasangkan dengan mahasiswa dari negara lain. Itu pengalaman part time pertama di Jepang. Oiya, part time di Jepang itu lazim disebut arubaito, lebih disingkat lagi dengan baito, yang berakar dari kata arbeit, bahasa Jerman, yang artinya bekerja.

Selasa, 31 Mei 2016

Di Antara Hitam-Putih, Abu-abu Hadir

Namanya Zaynudin, lebih sering dipanggil Zay, atau Zayn. Dia adalah satu dari sekian anak Indonesia yang dikirim ke Jepang untuk belajar bertani. Dia berasal dari Kalimantan Tengah, tinggal di dekat Sungai Katingan. Kemarin, 25 Mei 2016, rasanya gue kembali diingatkan untuk selalu bersyukur, selalu harus melihat "big picture" dan tidak langsung judge seseorang hanya berdasarkan mindset gue sendiri.

Zay ini orang yang pendiam, pertama kali ketemu juga dia termasuk yang paling kalem dibanding 17 orang 17 orang teman-temannya. Yang paling gue inget, dia pernah terlambat masuk kelas sewaktu orientasi di Ibaraki gara-gara ke toilet; istirahat selesai 10.00, dia baru hadir di kelas 10.02 (iyah, ini Jepang men). Shimizu-san (pak bos) langsung ngomong panjang lebar soal pentiongnya ketepatan waktu di Jepang, keterlambatan hitungan menit pun bisa dianggap kesalahan yang sangat besar.

Jumat, 11 Maret 2016

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

(Disclaimer: Kisah yang akan Anda baca adalah murni pengalaman saya pribadi dan diceritakan dari sudut pandang saya yang terjadi di sekitar tahun 2009-2010. Kesalahan saya mengingat kejadian tahunan silam sangat mungkin terjadi, dan bahwa organisasi ybs sudah berubah, atau yang saya tulis di sini salah pun sangat memungkinkan. Kebijakan pembaca sangat diharapkan. Selamat membaca ^^ )

Belakangan ini kita sering membaca di media sosial, atau nonton berita dan melihat sebuah fenomena, Gafatar. Awal mula Gafatar jadi tenar adalah ketika dr. Rica kabur bersama anaknya yang masih balita dengan meninggalkan pesan bahwa dia tidak akan pergi lama dan akan kembali, karena dia mengemban suatu misi; ingin membangun masyarakat Islam yang lebih baik. Tapi dia menegaskan bahwa dia bukan pengikut ISIS, karena ternyata di kemudian hari terungkap bahwa dia adalah seorang pengikut Gafatar.

Kemudian satu demi satu kasus orang-orang yang hilang karena berafilisiasi dengan Gafatar semakin terbuka dan ketahuanlah, Gafatar ternyata sudah cukup lama berada di Indonesia dan banyak orang-orang yang telah hilang dan tidak (belum) kembali kepada keluarganya setelah sekian lama.  Para "korban" Gafatar ini kebanyakan orang-orang yang sudah dewasa, katakanlah sudah mapan, sudah berkeluarga. Meskipun ada juga para remaja yang masih duduk di bangku kuliah.

Tapi tulisan ini ini bukan ingin mengupas tentang Gafatar, melainkan tertuju pada kelompok lain yang sempat menyita perhatian umat muslim Indonesia, khususnya di daerah Jabodetabek beberapa bulan silam, yaitu Yayasan Al-Kahfi. Bagi yang sudah lupa tentang yayasan al-Kahfi, bisa menyegarkan lagi ingatannya lewat artikel ini atau video YouTube ini. Saya sempat kepo dan ternyata mereka juga punya akun YouTube serta website official.


Jumat, 01 Januari 2016

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

New Year always be another new milestone because it isn't only the change of year, but also the change of my age (yeah I know I know). So it kind of a packed reflection moment for me; since many people tried to make another new resolution for the following year, despite bunch of previous year's resolutions left unresolved :p

But anyway, this year was hella' ride, so many new things I've done, met so many people, learnt so many things, played so many hours of dota, indeed was quite one good year! :D Compared to the previous year, this year is like the time for me to apply my language skill, and my common knowledge about everything.