Jumat, 25 April 2014

Mbah Kung

Sering dulu Deny diceritain sama Mama, kalo waktu Deny berangkat ke Jepang nemenin Papa sekolah, Mbah Kung sampe lari-lari ngejar pesawat saking gamau Deny pergi. Sampe Bude dan Tante nyegat Mbah buat ga ngejar pesawat yang makin menghilang ditelan malam. Mbah, masih inget ga yah?

Lalu waktu Deny masih SD, waktu masuk siang atau libur, kita main ke Taman Topi, naik sepeda layang, main bombomkar, jajan es cendol, masih inget Mbah? Jalan-jalan pagi ke taman kober, sekedar main bola, lalu pulangnya makan nasi ketan di warung pinggir jalan deket pasar Menteng Pulo, masih teringatkah, Mbah? Juga cerita-cerita Mbah tentang betapa hebatnya kemampuan renang Mbah meski udah tua, sering ngajak renang ke Kuningan, jajan es dan baso beres renang, pulang lewat jalan pintas, masih inget kah, Mbah?

Jelang Deny akhir SMA, mbah udah mulai pikun; pembicaraan 10 detik yang lalu pun lupa. Sering orang-orang dibuat kesal, karena udah hampir ga nyambung ngobrol sama Mbah. Selalu yang terulang-ulang adalah cerita tentang kejamnya orang tua Mbah, memperlakukan Mbah berbeda dengan saudara-saudara sekandung lainnya. Bahkan menginjak tahun kedua di IPB, Mbah udah gatau siapa Deny ini. Mbah makin kurus, makin sering meracau dan membicarakan hal yang sebenarnya tidak ada. Mbah juga makin kurus, sangat kontras dibanding dulu sebelum gejala pikun muncul. Ketika Deny berangkat ke Jepang pun, kali itu tidak ada orang yang mengejar pesawat yang Deny tumpangi, Mbah..

Lalu, Jum'at 25 April 2014, Allah memanggil Mbah untuk kembali. Sudah waktunya penantian Mbah berakhir. Seperti yang Mbah pernah bilang, bahwa Mbah sedang dalam masa PHK, Penantian Hari Kematian. Telah tibalah hari itu, Mbah. Semoga amal ibadah dan kebaikan Mbah selama Mbah hidup, bisa melapangkan kubur Mbah dan meringankan jalan ke surga-Nya kelak. Aamiin..



Sabtu, 12 April 2014

Indonesia (Masih) Belum Siap

Gegap gempita perpolitikan Indonesia sedang berlangsung. Kubu sana melancarkan jurus bongkar angka korupsi, kubu sini jurusnya mengungkit kebaikan diri, kubu sono mengerahkan armada media, macem-macem. Orang baik jadi terlihat baik, orang jahat dipermak jadi baik. Macem-macem.

Sedangkan di tempat lain, ada (salah satu) putra terbaik bangsa yang ide(brilian)nya di'kacang'in pemerintah yang lagi sibuk (mungkin) mark up angka-angka, yang lagi pada ambil cuti kampanye, atau sekedar pelesir dan tidur siang. Tapi mungkin, masih banyak lagi putra bangsa yang idenya di'kacang'in sebelum ini. Pasti ada.

Indonesia pernah dipimpin salah satu putra bangsa terbaik yang menurut saya pernah ada, tapi kebodohan bangsa Indonesia sendirilah yang menyebabkan Indonesia yang seharusnya bisa tertolong saat itu, kembali jatuh - kalau tidak ingin disebut terpuruk nan tersuruk.

Yak, (menurut saya) bangsa kita masih bodoh. Belum pantas orang pintar, berwibawa tinggi, solutif, grade A lah pokoknya, untuk memimpin Indonesia (kita). Kita belum siap. Kita masih menjadi bangsa yang memaki kebersihan kota di saat masih menjadi pembuang sampah sembarangan teladan. Memaki kemacetan kronis dan akut ketika masih menerobos lampu merah dan menggunakan trotoar ketika tidak sedang jalan kaki. Atau, bangga dengan hobi jam karet yang sudah terkenal ke senatero pelosok dunia.

Kapan Indonesia (kita) akan siap?