Selasa, 19 Maret 2013

Cincona, Apa Tujuan Hidupmu?



Berang-berang adalah hewan yang terkenal ulet.  Pohon-pohon dipotong dengan menggunakan giginya untuk membendung sungai dan membuat rumahnya di tengah aliran sungai yang terbendung itu.


Alkisah, di tepian sebuah danau yang dikelilingi oleh hutan pinus, hiduplah seekor berang-berang bernama Cincona.  Ia hidup sebatang kara semenjak kedua orangtuanya tewas diterkam seekor beruang grizzly.  Cinchona ketika itu masih berusia tiga bulan, usia remaja bagi seekor berang-berang.
Semenjak peristiwa tragis itu, Cincona tidak pernah meninggalkan “benteng” sarangnya.  Sebagaimana keluarga berang-berang lainnya, keluarga Cincona juga membangun benteng dari patahan-patahan batang pinus, gelondongan pohon willow, dan beberapa ranting pohon ek.  Sesekali saat dirinya masih kecil, Cincona ikut membantu Pak Matuseh, demikian nama ayahnya.  Mereka berdua mencari cabang pohon mapel yang masih berdaun, untuk digunakan menambal bagian bendungan benteng yang bocor.
Pak Matuseh selalu mengajarkan etos kerja yang berdedikasi tinggi.  Meskipun usia Cincona masih tergolong anak-anak, Pak Matuseh selalu mengajak Cincona berburu ikan salmon untuk makan malam keluarga.  Pak Matuseh juga selalu mengajarkan pentingnya kejujuran, selain kerja keras dan dedikasi pada keluarga.

Telur dan Ayam Profesor Mari Musang



Musang juga disebut luak. Panjang ekornya lebih kurang satu meter, warnanya coklat tua dengangaris dan belang hitam.  Musang terdapatdi daerah-daerah mulai dari India sampai Indonesia.  Makannya berupa serangga, telur, ayam, danbuah-buahan.


Professor Mari Musang adalah gurubesar ilmu hewan pertama dari kalangan musang. Ia mengajar di perguruan tinggi Universitas Rimba Raya (URR).  Selain berprofesi sebagai pengajar, ia jugaibu bagi tiga ekor musang kecil yang sangat cerdas.  Suaminya telah lama meninggal dunia karenaterkena perangkap Pak Jono pemilik peternakan ayam.  Prof. Mari yang semenjak remaja sudahterkenal karena kecerdasannya, bekerja keras membanting tulang dan menuntutilmu agar dapat menghidupi dan membesarkan anak-anaknya.
Walhasil, segala kerja keras prof.Mari kini mulai berbuah.  Ia berhasilmenjadi seorang guru besar yang berpengaruh dan terkenal di seantero rimbaraya.  Anak-anaknya pun tumbuh menjadimusang-musang yang berakhlak mulia dan mencerminkan kecerdasan lahirbatin.  Meskipun Prof. Mari sangat sibuk,ia selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan ketiga anaknya, khususnyapada saat-saat mereka makan bersama.
Setiap kali mereka mengelilingimeja makan, Prof. Mari akan selalu melontarkan pertanyaan kritis untuk dijawabbersama-sama.  Tiko, Tika, dan Tiki,demikian nama ketiga anak Prof. Mari secara berurutan, sangat senang berdebatdan beradu argumentasi.  Prof. Marisering merasa takjub mendengar jawaban-jawaban anaknya yang di luar dugaan.
Malam ini, Prof. Mari mengajukansebuah pertanyaa filosofis yang sering diperdebatkan di perguruan dan dikalangan para ahli filsafat.
“Manakah yang lebih dulu, teluratau ayam?” Tanya Prof. Mari.
Tiko, Tika, dan Tiki salingmenyunggingkan senyum, bahkan akhirnya Tiko tak mampu menahan diri dan tertawaterbahak-bahak.
“Ibu, Ibu… pertanyaan semudah itukok diberikan pada kami, sih?”
Prof. Mari terperangah karena tidakmenduga akan mendapatkan respons seperti itu.
“Apakah kalian tahujawabannya?”  Ia membayangkan begitubanyaknya teori yang berusaha menjawab pertanyaan itu, tetapi tak satu pun yangmembuahkan hasil.
“Tentu saja kami tahu, Bu.  Jawabannya adalah jelas lebih dulu telur.”
“Mengapa bisa demikian?” TanyaProf. Mari penasaran.
“Ya tentu saja telur, Ibu.  Karena telur kita makan ketika sarapan danayam kita makan ketika makan siang dan malam.”
Prof. Mari tersenyum, “Memangsemakin repot kita memikirkan efek sebab-akibat, akan semakin sering pula kitamengabaikan fakta yang nyata-nyata tersaji di hadapan kita.  Terkadang jecerdasan itu justru muncul darikesederhanaan.  Teori relativitas,misalnya, justru dirumuskan dalam persamaan yang sangat sederhana.  Hanya melibatkan dua variable, yaitu massadan kecepatan cahaya.  Namun lihatlahm,dampaknya bisa mengubah wajah peradaban dan dunia.”
Anak-anak memang bisa berpikirjernih dan mampu melongok setiap masalah dengan apa adanya.  Mereka tidak dibebani pretense untukberprestasi dan memenangkan kompetisi. Mereka tidak memiliki masalah untuk mengeksistensikan diri sebagai suatubentuk aktualisasi. Dengan kata lain, mereka jujur terhadap diri sendiri danjuga terhadap orang lain.  Padahal, untukberprestasi dan menang dalam berkompetisi, kerapkali kita berbuat licik danmencurangi diri sendiri.
Pendek kata, semakin banyak kita menimbun dosa,semakin sulit pula kita untuk berpikir apa adanya.  Meskipun konsep “apa adanya” itulah yangsebenarnya merupakan kecerdasan paripurna.


Hikmah:  KESEDERHANAAN dan kejujuran adalah kunci darikejernihan pikiran.  Hanya saja, syaratuntuk menjadi jujur dan sederhanalah yang untuk sebagian dari kita, terasaberat.

Tobby Tupai, Tak Punya Kenari



Tupai adalah sejenis hewan yang hidup di pohon dengan ekoryang besar dan bulu yang lebat.  Iaberloncatan saat malam hari mencari kenari dan kacang-kacangan untuk dimakan.


Pada penghujung musim gugur, Tobbysibuk mengumpulkan bahan makanan untuk persiapan menghadapi datangnya musimdingin.  Maklumlah, Tobby tinggal dihutan yang memiliki empat musim.
Tobby adalah seekor tupai muda yangbaru saja menempati lubang pohonnya sendiri. Pada saat tupai-tupai seusianya masih tinggal bersama orangtuanya, Tobbysudah pindah ke pohon lain karena merasa sudah mampu untuk hidup mandiri.  Permintaan ayahnya agar Tobby tinggal bersamamereka selama satu sampai dua musim lagi di lubang keluarga tupai,ditolaknya.  Tobby sudah merasa yakindengan kemampuannya dan berbesar hati bahwa ia mampu melewati musim dingin yangkeras dengan usahanya sendiri.
Musim dingin di hutan berlangsungcukup panjang, hampir empat bulan lamanya. Suhu udara berkisar antara minus 10 sampai minus 15 derajatCelsius.  Suatu keadaan yang mampumembekukan apa pun yang ada di luar sana. Berulangkali ayahnya mencoba menasihati Tobby agar mau belajar menatahidup sebelum ia pergi dari rumah.
Singkat cerita, pada penghujungmusim gugur pertama semenjak Tobby pindah ke lubang pohon miliknya sendiri,Tobby bekerja keras untuk mengumpulkan bahan makanan apa pun yang bisadidapatkannya.  Beruntung sekali, hutantempat Tobby tinggal memiliki tanah yang sangat subur.  Beraneka jenis sayuran dan buah-buahan tumbuhdi mana-mana.  Tobby bergegas mengangkutberaneka sayur dan buah ke dalam lubang pohonnya.
Saat memilih buah dan sayur, Tobbysangat terpesona pada sayur dan buah beraroma menggiurkan dan berasa lezatseperti wortel, tomat, stroberi, blackberry, murbai, dan alfalfa.  Ia mengangkut sayur dan buah-buahan itusebanyak-banyaknya, hingga hampir memenuhi seluruh ruang di lubangpohonnya.  Pada saat-saat terakhir, iabaru teringat untuk mengambil sedikit kacang-kacangan, kenari, dan beberapajenis umbi-umbian.
Tak lama berselang, musim dinginpun tiba.  Seluruh hutan tertutup saljulembut yang memutihkan seluruh rerumputan. Sungai-sungai dan danau membeku, lapisan es yang keras tampak berwarnabening dan memantulkan cahaya matahari. Semua hewan di hutan itu berdiam diri di sarang masing-masing.  Tobby pun menikmati keadaan musim dinginitu. 
Pada hari-hari pertama, ia masihdapat mengonsumsi wortel dan alfalfa. Pada hari-hari berikutnya, suhu udara menjadi semakin dingin.  Persediaan buah dan sayur milik Tobby, yang rata-ratatinggi kandungan airnya, mulai membeku dan mengkristal hingga sulit sekaliuntuk dimakan.  Dari semua makanan yangada hanya tinggal sedikit kacang dan umbi, serta sejumput biji kenari.  Dalam dua hari saja, habislah semuapersediaan itu.
Hari ketiga, Tobby tidak bisatidur, badannya terasa sangat kedinginan, sementara perutnya keroncongan mintadiisi.  Tobby hanya bisa menatap nanarpada setumpuk stroberi yang tampak merah menggiurkan.  Namun, Tobby sadar bahwa ia tidak bisamemakannya karena stroberi itu telah menjadi Kristal es yang keras dan tentusaja sangat dingin.  Brrr!
Akhirnya, pada hari kelima, Tobby memutuskanuntuk pulang ke lubang pohon keluarganya. Saat menuntun langkah Tobby yang gemetaran masuk ke ruang depanmendekati perapian, ayahnya hanya berujar singkat, “Perubahan yang tidakdirencanakan serta langkah-langkahnya yang tidak dibekali ilmu adalah sebuahujian dengan ketidaklulusan yang sudah dipastikan.”


Hikmah: PERENCANAAN dalam prosesmenata hidup adalah sebuah keniscayaan yang mutlak diperlukan agar hasil yangdidapatkan sesuai dengan kualitas yang diharapkan.