Jumat, 22 Februari 2013

Seni Budaya Nusantara: Milik Siapa?

Ketika negara kalem semua adem ayem sebebas-bebasnya pake produk asing. Ketika negara gonjang-ganjing semua teriak Indonesia.
-Ki Gendeng Pamungks, atas nama Front Pribumi (dengan sedikit perbaikan)-
Masih inget banget sama kata-kata itu, kata-kata yang seringkali menghias di daerah tugu Kujang waktu gua masih SMP, masih naik angkot pulang pergi sekolah. Front Pribumi yang dinakhodai Ki Gendeng Pamungkas, salah satu tokoh masyarakat di Bogor, acap menyindir pemerintah dan masyarakat Indonesia dengan memasang spanduk-spanduk berisi sindiran-sindiran sarkasme, nyelekit tapi bener kalo kata orang jaman sekarang mah.  Kadang ada yang terlalu frontal dan sering banget yang bisa bikin para pengguna jalan tersenyum simpul: ngerasa tersindir karena memang begitu adanya. Tapi sayang banget, sejak gua kelas 2 atau 3 SMP, karena ada pembangunan Botani Square, dinding di situ jadi gabisa dipasangin spanduk lagi dan praktis Front Pribumi udah ga 'berkicau' lagi deh.

Seinget gua, pernyataan di awal posting blog ini dilontarkan pas ada peristiwa para separatis di daerah Maluku atau Papua gitu (lupa), juga ada beberapa kejadian kebudayaan Indonesia yang diklaim negara tetangga (you know who), sehingga saat itu rasanya nasionalisme sedang benar-benar diuji.  Semua orang membela Indonesia dan mengutuk para perongrong persatuan bangsa.  Semua orang berteriak, "Saya Indonesia." dan mengacungkan merah putih.  Dan kejadian itu ga berlangsung lama, dalam waktu sekitar 2 minggu-an suasana udah kembali cair, dan orang-orang kembali melupakan kita punya tari Sisingaan, batik Bogor, tari Ketuk Tilu, tari Bajidor Kahot, gamelan, sasando, dan lainnya.

--00--

Minggu, 10 Februari 2013

Senandung Malam



Ketika malam menabuhkan kedatangannya
Mentari malu dan berbalik sembunyi
Melambaikan mega di ufuk barat, melepas hangatnya senja
Menyambut gelap menyelimuti langit
Dingin

Simfoni alam mengalun sendu, syahdu, riang
Di ujung sawah samping gubuk, mereka bernyanyi
Bernyanyi nyanyian alam, menyayat hati, menebas lara, mengusir hening
Mengantar insan ke peraduan, melepas penat, mengurai lelah
Damai

Dalam diamnya malam, ada yang berdiri, ada yang bersimpuh terduduk
Tengadahkan tangan, teteskan bulir air rindu
Terisak di heningnya gelap, tersungkur bersujud
Di kediaman Tuhan hanya beberapa kata yang terpanjatkan
Doa

JAMUR: It's My Passion, What is Yours?



Semua motivator berkata untuk terus maju dan pantang menyerah, tapi ketika kita sudah berusaha maksimal tapi ternyata sering menemui jalan buntu, kapan kita tahu untuk berhenti dan putar haluan?

Pertanyaan itu sering kali gua sampaikan di setiap kesempatan ikut pelatihan motivasi.  Gua setuju kita harus selalu berusaha di bidang yang sedang ditekuni, di impian yang dilantunkan dalam doa, tapi ketika apa yang diusahakan itu stuck, tentunya gabisa keukeuh lanjut, harus tau kapan waktunya putar haluan.  Berulang kali nanya hal yang sama tapi tetap ga nemu jawaban yang pas di hati #tsaah, tapi alhamdulillah waktu ikut seminar Young on Top kemarin, bang Billy Boen menyampaikan idenya tentang passion, bahan bakar idealisme dan daya kerja seseorang.  Akhirnya nemu jawaban atas pertanyaan di atas: yang diperjuangin itu your passion or not? Kalo bukan, berarti harus mundur. Kalo iya, tancap gas aja Bung.
---00---