Kamis, 26 Desember 2013

The Last Lecture – Randy Pausch Book Review


By Rishabh Diwakar
“An injured lion still wants to roar”
If you know that you have a very short time of good health, how would you like to spend your time? You want to fulfill your dreams, spend quality time with your family or do what you are best at. Very similar is the case of Randy Pausch, a computer science professor at Carnegie Mellon, who has been diagnosed with terminal cancer. He was asked to give a lecture and he couldn’t imagine it to be his last one. Randy said “We cannot change the cards we are dealt, just how we play the hand”. He finally gave the lecture “Really Achieving your Childhood Dreams” which was about adventures, lessons, overcoming hurdles in life, doing things that make us happy, enabling the dreams of others, seizing every moment(because “time is all you have…and you may find one day that you have less than you think you do”). In short, it was about living your life. He managed to motivate his audience even with his failures and adventures. He demonstrated the famous dialogue from the movie “Rocky” by relating it to his real-life experiences, and I quote, “It ain’t about how hard you hit. It’s about how hard you can get hit and keep moving forward”.
This book is inspiring, motivating and can craft the inanimate to life. The author has beautifully combined humor, intelligence and wisdom. He has exemplified many stories which cover subjects like hard work, team work, sacrifice, self-confidence, modesty, dreaming big, perseverance, positivity, courage and dealing with adversity. For the reader, the book is a glimpse into the life of a dying man who fights every moment to be alive and not a mere story.
He finds himself winning the parent lottery. He was influenced by his loving and supporting parents. During his life, he learnt many lessons from his experiences and has shared them in a striking manner. He also reveals how he achieved his childhood dream of becoming a Disney Imagineer, getting to Zero Gravity, being the coolest guy at amusement park and playing in the National football League (which he never made it).
The book shows a transformational change of his life when he is diagnosed with pancreatic cancer, portrays the changes in his day to day life and how he managed to achieve more in those turbulent times. He always maintained a positive outlook. Pausch loved his wife and children and he expressed it after every slide of his last lecture. He has dedicated his last lecture to his children and concludes by looking forward to sharing his dreams for his children. He recounts that his wife Jai was his caregiver and this means a lot to him.
On the last page, he closes with the following poignant statement: “My life will be lost to pancreatic cancer. Two organizations I have worked with that are dedicated to fighting this disease are: The Pancreatic Cancer Action Network and The Lustgarten Foundation.” This book makes us feel like family to him, supporting him in his battle against a terminal cancer.
He is an electronics engineer and is currently pursuing full time M.B.A in Energy and Infrastructure (Finance) from School of Petroleum Management, Gandhinagar. In past he has been associated with Tata Consultancy services Ltd for 3 years as a system engineer. He has also done research work for Indian Oil Corporation during his Internship and helped them to understand the role of media in branding.
as originaly posted on http://theindianeconomist.com/the-last-lecture-randy-pausch-book-review/

Sabtu, 16 November 2013

You are What You Let Come Inside You, Shaping You

You are what you eat. You are what you read. You are what you watch. You are what you hear. You are what you learn, dan mungkin masih banyak 'you are what you' yang lainnya. Kamu adalah apa yangkamu konsumsi, apa yang kamu biarkan masuk ke dalam dirimu, dan akhirnya membentuk dirimu sekarang.

Gaya bahasa, gaya tulisan, cara bicara, cara bermimpi, cara berjalan, cara berpikir, makanan favorit, minuman kesukaan, semuanya. Kualitas dirimu, hanya dirimu yang bisa mencari dan memberinya bentuk. Ingin seperti apa? Segitiga kah? Persegi kah? Lingkaran kah? Bebas.. Ingin setinggi apakah impianmu? Untuk peran yang manakah keberadaanmu saat ini? Yang bisa menjawab hanya dirimu untuk pertanyaanmu, diriku untuk pertanyaanku.

Karena masih banyak (dan akan selau banyak) alasan yang bisa terlontar untuk menghindari (katakanlah) deadline, atau sekedar permintaan seorang teman untuk bersama memulai mencipta keajaiban, mencipta inspirasi. Masih harus banyak menggali ilmu, mengekstrak gaya bahasa dan jalan berpikir banyak orang-orang pemikir yang hebat, yang bisa mengantar kita menuju kesetimbangan apik.

Aku sedang berusaha.

Minggu, 29 September 2013

Apa yang Telah Kita Minta?

Jadi ceritanya pada suatu masa, ada seseorang yang begitu rajin beribadah dan berdoa, tapi di satu sisi dia pun harus bekerja untuk menghidup dirinya sendiri. Dia merasa pekerjaannya itu mengurangi waktunya bersama Tuhannya, lalu dia pun berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhan, hamba sangat mencintai-Mu dan ingin selalu beribadah kepada-Mu, tapi hamba merasa waktu hamba untuk beribadah berkurang karena keharusan hamba untuk bekerja. Andai saja hamba punya waktu untuk beribadah kepada-Mu saja, dan asalkan mendapat makanan untuk 3x makan sehari, hamba merasa itu semua sudah cukup."

Kemudian bebrapa hari setelahnya, orang itu difitnah oleh temannya, dan dijebloskanlah ia ke penjara. Setiap hari tidak ada yang bisa dia kerjakan, lalu dia diberi makan oleh petugas penjara 3x sehari. Lalu orang itu pun berdoa, "Ya Tuhan, apa salahku sampai aku bisa dipenjara begini? Kenapa tega sekali dia memfitnahku seperti ini..."

Di saat itu, ia sepertinya tidak sadar bahwa Tuhan ternyata sudah mengabulkan doanya: Ia bisa leluasa beribadah kepada-Nya tanpa mesti bekerja, dan kebutuhannya untuk makan 3x sehari sudah terpenuhi; semua sesuai dengan doanya di awal cerita.

--000--

Selasa, 24 September 2013

Napak Tilas Waktu

Baru 2 bulan lalu, mata ini memandang langit dan daratan Jakarta di sore hari, menginjak Nusantara tercinta

Baru 1 tahun lalu, diri ini sibuk mengangkut barang-barang dari asrama menuju kosan yang nyempil di kerajaan Perwira Gang Masjid sana

Baru 2 tahun lalu, sempat bertengkar dengan Mama, cuma gara-gara masalah anaknya ini yang ga mau diantar ke asrama dengan mobil kampus, inginnya mencoba mandiri, tapi salah metode penyampaiannya

Baru 3 tahun lalu, masih mondar-mandir memikirkan konsep acara organisasi, sambil latihan keyboard dan piano supaya tidak kalah skill dengan murid

Baru 4 tahun lalu, merasakan manisnya gaji pertama kerja keras bolak-balik ke sana ke mari, menyusun kurikulum, diskusi, training, persiapan promosi, segala macam hal

Baru 5 tahun lalu, masih pakai notes doraemon, nulis-nulis dan mencatat keperluan MOS, sampai salah bawa tugas yang sangat fatal; perintahnya disuruh bawa sandal bakiak, yang dibawa bakiak buat 17an

Baru 6 tahun lalu, pertama kali kabur dari pelajaran karena guru berhalangan hadir, main ke warnet dengan perasaan super deg-degan, khawatir tiba-tiba ada Satgas pelajar datang sidak

Senin, 29 Juli 2013

Keluarga #1

Keluarga. Tempat kembali sementara semua jiwa yang masih hidup. Tempat di mana semua berawal dari nol. Tempat kenyamanan dan kehangatan dapat ditemukan....

Jadi ceritanya, mau nyeritain tentang semua keluarga yang dipunya sampai saat ini. Merasa bahagia dan beruntung karena berkat merekalah, jadilah gua yang sekarang ini. Siapa aja 'mereka' itu? Cekidot.......

Keluarga Kecil



Hayo tebak dari kiri ke kanan siapa aja itu :3

Minggu, 07 Juli 2013

Journey Beyond the Lands #2: Simfoni Angklung Nomor 27

     Pada suatu masa, hiduplah seorang pemecah batu gunung. Mencari penghidupan dari memecah batu di gunung dekat rumahnya, setiap hari, dari pagi sampai petang. Suatu hari ketika dia sedang bekerja, lewatlah iring-iringan rombongan kerajaan. Di dalam hatinya dia sangat iri karena sang raja memiliki hidup yang begitu enak dan santai. Akhirnya dia berdoa supaya dia bisa menjadi raja. Lalu, seketika itu pula Tuhan mengabulkan doanya dan jadilah dia sang raja.
     Ketika dia menjadi raja, benar bahwa hidupnya serba enak. Ditandu kemana-mana, dilayani segalanya, tiada kurang apapun. Namun ketika dia sedang dalam perjalanan ke suatu daerah, matahari sedang bersinar terik saat itu. Sang raja murka dan mengumpat matahari, lalu dia berdoa supaya dia bisa menjadi matahari. Tuhan kembali mengabulkan doa sang raja, dan jadilah dia matahari yang menyinari bumi.
     Ketika dia menjadi matahari, dia sinari semua yang ada di bumi dengan amat kuat.  Hampir tidak ada tempat yang tidak terkena sinarnya. Namun suatu ketika, ada segumpal awan yang menghalangi sinarnya. Sang matahari pun marah dan murka. Akhirnya dia berdoa kepada Tuhan agar dia dijadikan segumpal awan. Lagi-lagi Tuhan mengabulkan doanya dan jadilah dia menjadi awan.
     Ketika dia menjadi awan, dia bisa melanglangbuana dan menutupi sinar matahari semaunya, memberikan keteduhan bagi segala yang di bawahnya. Namun suatu ketika, dia dibuyarkan oleh angin yang keras. Kembali dia murka, dan kembali berdoa kepada Tuhan agar dia dijadikan angin. Lagi dan lagi, Tuhan mengabulkan permohonannya.
     Ketika dia menjadi angin, dia tiupkan kuasanya kemana-mana. Pohon, awan, rumah, segalanya yang dia inginkan, dia tiup sesuka hatinya. Namun ada satu hal yang tidak bisa dia tiup, yaitu sebuah gunung batu yang kokoh. Sekuat apapun dia meniup, gunung batu itu tetap di posisinya, tak bergeming. Akhirnya dia kembali marah dan meminta Tuhan untuk menjadikannya sebagai gunung batu itu. Lagi, Tuhan mengabulkan permohonannya.
     Ketika dia menjadi gunung batu, dia merasa amat perkasa. Tidak ada yang bisa menumbangkannya. Bahkan ketika sekelilingnya tersengat sinar matahari yang terik, atau porak poranda diterjang angin, dia tetap berdiri kokoh tak tertandingi.  Tapi suatu ketika, dia tiba-tiba merasa sakit yang amat sangat. Ketika ia mencari tahu apa penyebabnya, ternyata ada seorang pemecah batu yang sedang bekerja; memukul gunung batu dan mengikis perlahan-lahan bagian tubuh si gunung batu. Akhirnya, si gunung batu pun kembali memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan dia menjadi pemecah batu kembali.

(Kisah Seorang Pemecah Batu yang Tidak Puas; pernah baca tapi lupa sumber, dengan berbagai improvisasi)

--000--

Kamis, 13 Juni 2013

Tami Merpati, Menguji Cinta


Merpati termasuk burung yang hebat karena ia dapat menemukan jalan pulang meskipun jaraknya ribuan kilometer.  Oleh karena itu, merpati pos sering digunakan untuk mengirim surat.


Tami adalah seekor burung dara yang cantik nan rupawan.  Berpuluh merpati jantan telah mencoba peruntungan untuk mempersuntingnya.  Namun sayang, tak satu pun jua yang berkenan di hati sang dara.  Sampai akhirnya Tami berjumpa dengan seekor perjaka merpati tampan yang anehnya justru seolah tak mengindahkan kehadiran sang dara yang rupawan.
Tami terbakar oleh rasa penasaran, ingin sekali ia mengajak si tampan berkenalan.  Amboi, ketika Tami mengulurkan kesempatan, si Jaka malahtertunduk tak bersuara, hanya merah meronai semburat wajahnya.  Dengan gigih, Tami akhirnya meminang paksa.  Entah apa sebenarnya yang ada di lubuk hati sang Jaka, tapi toh ia menerimanya.

Selasa, 11 Juni 2013

Journey Beyond the Lands #1: To Infinity, and Beyond!!

Tanggal 27 Maret 2013, entah itu jadi hari yang paling ditunggu atau sebaliknya. Tapi yang pasti, di situlah titik balik hidup gua: memulai dari titik nol.  'Membuang diri' ke negeri orang, saat sudah merasa sangat nyaman dengan kondisi, lingkungan, dan suasana di negeri sendiri.  Dengan bekal bahasa Inggris pas-pasan dan bahasa Jepang yang masih sangat basic,cabutlah ke negeri Sakura, tempat yang memiliki kenangan tersendiri.  

Jauh sebelum tanggal itu, dapat kabar bahwa positif lolos itu sekitar awal Januari, inget banget waktu itu lagi ngajar Ekonomi Umum di salah satu bimbel di daerah kampus, terus dapet sms dari papa (aw aw) buat ke Ditmawa untuk ngambil sesuatu. Teteret tereet, ternyata pengumuman bahwa telah resmi diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan International Bio-Business, Tokyo University of Agriculture. #sujudsyukur Langsung ada perasaan 'nyeesss' yang merasuk dalam sanubari #lebay. Jadi........ jadi nih, ninggalin semua yang udah dibangun, yang udah diraih, di sini, di IPB, di Indonesia? Ah, yasudahlah, singkirkan semua prasangka yang memberatkan, bulatkan tekad!!

Akhirnya, dari Januari sampek Maret, diisi dengan berbagai macam persiapan. Persiapan latihan nari karena nanti ada pentas budaya para mahasiswa asing, persiapan bahasa, persiapan mental, dan lain-lain. Harus ngucapin selamat tinggal ke banyak tempat, banyak hal, banyak orang.... Kos-kosan yang udah menemani dari bulan Juli tahun lalu, sampe Maret kemarin, banyak banget kenangan dan hal-hal yang dilakukan di sana. Sekret Forces, tempat paling nyaman se-IPB, tempat di mana ketika lagi stress tingkat akut trus kalo pulang dari situ, pasti berseri-seri karena kebanyakan ketawa. Rumah hantu, kosan temen lorong, pun warung ijo, tempat kosan anak lorong juga. Koridor-koridor tempat biasa rapat, ruang kelas-ruang kelas tempat tidur siang menuntut ilmu, kantin, warung makan, warung padang, jus stroberi, ketoprak mas Bejo, dan lain-lain. #fiuuuhhh

Dan tanpa terasa.... datanglah hari-hari menuju keberangkatan. Mama udah mulai cerewet ngingetin buat packing dari H-1 bulan, tapi gua dengan santai jawab "Udah santai aja, ntar H-2 minggu baru mulai beresin." Dan realisasinya, baru H-1 minggu mulai beberes #ngahahaha. Targetnya adalah, berat koper totalnya 20 kg, karena segitulah batasnya (maklum belinya tiket promo, jatah bagasi cuma dikit). Setelah dipaksa-paksa dan dikurang-kurangii, akhirnya dapetlah massa bruto koper 30 kg. Okay seems like we are screwed. Tapi yaudah, capcus aja dengan berat segitu. Setelah seminggu sebelum keberangkatan dipenuhi jadwal perpisahan, akhirnya tiba juga di hari keberangkatan.

Minggu, 26 Mei 2013

What Didn't Kill You, Will Makes You Stronger

Jadi kemarin lusa, 24 Mei 2013, diajak sama senpai dari Nodai buat dateng ke acara PPI Jepang di Todai. Acaranya nonton film "The Act of Killing". Inih foto posternya.




File:The Act of Killing (2012 film).jpg
 Awalnya sama sekali gatau ini film apa, cuma begitu diwanti-wanti bahwa ini adalah film tentang pemberantasan PKI, dan mesti ditonton dengan pikiran terbuka, well my curious sense was tingled. Jadi yaudah tanggal 25 kemarin cabut ke Todai.

Berangkat ke Todai sama kak Kiki (senpai yang baru Maret kemarin wisuda S1 dan sekarang lagi jadi research student di Nodai), dan selama di perjalanan berangkat buaanyak banget diceritain kisah-kisah perjuangan 'membangun' kembali PPI Jepang setelah sempat mati suri. Mulai dari nyari sponsorship perusahaan-perusahaan Jepang, ngedatengin orang-orang Indonesia yang ada di seluruh penjuru Jepang, sampe dimarahin pak Dubes gara-gara ini dan itu. Seru! Jadi inget masa-masa riweuh dulu :P




Sabtu, 18 Mei 2013

Ibu Gala Serigala Jago Matematika



Serigala termasuk keluarga anjing liar, mereka dikenal sebagai pemburu alami yang memburu mangsa secara berkelompok.  Serigala sangat terkenal dengan lolongannya yang sering terdengar pada malam hari dan membuat takut manusia.


Ibu Gala Serigala adalah seekor serigala yang bijaksana.  Ia merupakan tempat bertanya dari seluruh klan serigala yang tinggal dan menetap di hutan Bukit Purnama.  Berbagai permasalahan rumit dan pelik yang dialami oleh banyak keluarga serigala berhasil dipecahkannya dengan sangat gemilang.  Terkadang, ada juga beberapa ekor serigala yang sengaja datang untuk menguji kemampuan Bu Gala.  Mereka datang tidak membawa persoalan yang sebenarnya, melainkan membawa pertanyaan-pertanyaan untuk sekadar mengetes dan mengetahui seberapa cerdas Ibu Gala ini.
Alkisah pada suatu hari, datanglah dua ekor serigala kecil bernama Ozi dan Zio.  Mereka ingin membuktikan kisah yang didengar tentang kecerdasan Bu Gala.  Bagi mereka, Bu Gala adalah legenda.
“Bu Gala, kemarin kami mengumpulkan telur ayam, Alhamdulillah kami dapat banyak sekali.  Zio mendapat telur 12 butir lebih banyakdariku sehingga perbandingan di antara telur yang berhasil kami kumpulkan adalah 6:10,” demikian uraian Ozi.
Lalu, Zio pun bertanaya, “Jadi, berapa butirkah total telur yang kami dapatkan, Bu?”
Ibu Gala tersenyum bijak, “Selisih awal empat, dari perbandungan 6:10 kemudian kalian katakan selisih telur yang kedua 12 butir, jadi dikali tiga juga.  Jadi, Zio mendapatkan 10x3 dan Ozi mendapatkan telur sebanyak 6x3 sehingga total telur yang berhasil kalian kumpulkan adalah 48 butir, bukan?”
Ozi dan Zio bengong, mereka tak habis piker, Paman Obby Knobby sang Profesor burung hantu saja sampai saat ini masih sibuk membuat persamaan-persamaan non-linier.  Katanya, paling cepat nanti sore barulah ia akan mendapatkan hasilnya. Sementara Bu Gala menjawab dengan tepat justru hanya sambil lewat.
Apakah rahasianya?  Cermati data dan perhatikan setiap proporsi atau aturan keseimbangan.  Jika kita cermat dalam melihat dan merasa, semua masalah akan menajdi sederhana.  Kalau semua masalah bisa menjadi mudah, kenapa harus dibuat susah? 

Hikmah:  KEMAMPUAN memandang dan menempatkan masalah secara proporsional akan memandu kita untuk dapat meletakkan faktor dan variabel pengurai di tempat yang tepat.  Walhasil, solusinya pun cepat, tepat, dan akurat. 

Minggu, 12 Mei 2013

Titip Absen

Akhirnya internet telah datang di laptop tercintah (yang umurnya sebentar lagi)!! Maka blog ini pun akan segera dicurahkan cinta (?) Sebagai pemanasan, sebelum laptopnya diinstal ulang karena mulai ngadat, mau ngeluarin tulisan yang udah jadul banget, ditulis waktu masih TPB dan masih bergejolak darah mudanya (?) Check this out~

Senin, 22 April 2013

Mongki Baba yang Cerdik



Gajah adalah hewan darat terbesar dan terberat. Belalainya digunakan untuk minum, memasukkan makanan ke dalam mulutnya, dan kadang digunakan untuk mengangkut barang-barang bawaan yang diperintahkan oleh pawangnya.

Senin, 08 April 2013

What Happens When You Live Abroad

Sebuah....essay (mungkin) tentang 'apa yang terjadi' ketika seseorang menetap di luar negeri dalam jangka waktu tahunan. Cukup panjang dan menggunakan bahasa Inggris yang membutuhkan daya cerna lebih tinggi, tapi jika bisa menangkap maknanya, bukan tidak mungkin kamu akan menangis (as I did). Enjoy, readers :)

What Happens When You Live Abroad
By CHELSEA FAGAN

A very dependable feature of people who live abroad is finding them huddled together in bars and restaurants, talking not just about their homelands, but about the experience of leaving. And strangely enough, these groups of ex-pats aren’t necessarily all from the same home countries, often the mere experience of trading lands and cultures is enough to link them together and build the foundations of a friendship. I knew a decent amount of ex pats — of varying lengths of stay — back in America, and it’s reassuring to see that here in Europe, the “foreigner” bars are just as prevalent and filled with the same warm, nostalgic chatter.

Selasa, 19 Maret 2013

Cincona, Apa Tujuan Hidupmu?



Berang-berang adalah hewan yang terkenal ulet.  Pohon-pohon dipotong dengan menggunakan giginya untuk membendung sungai dan membuat rumahnya di tengah aliran sungai yang terbendung itu.


Alkisah, di tepian sebuah danau yang dikelilingi oleh hutan pinus, hiduplah seekor berang-berang bernama Cincona.  Ia hidup sebatang kara semenjak kedua orangtuanya tewas diterkam seekor beruang grizzly.  Cinchona ketika itu masih berusia tiga bulan, usia remaja bagi seekor berang-berang.
Semenjak peristiwa tragis itu, Cincona tidak pernah meninggalkan “benteng” sarangnya.  Sebagaimana keluarga berang-berang lainnya, keluarga Cincona juga membangun benteng dari patahan-patahan batang pinus, gelondongan pohon willow, dan beberapa ranting pohon ek.  Sesekali saat dirinya masih kecil, Cincona ikut membantu Pak Matuseh, demikian nama ayahnya.  Mereka berdua mencari cabang pohon mapel yang masih berdaun, untuk digunakan menambal bagian bendungan benteng yang bocor.
Pak Matuseh selalu mengajarkan etos kerja yang berdedikasi tinggi.  Meskipun usia Cincona masih tergolong anak-anak, Pak Matuseh selalu mengajak Cincona berburu ikan salmon untuk makan malam keluarga.  Pak Matuseh juga selalu mengajarkan pentingnya kejujuran, selain kerja keras dan dedikasi pada keluarga.

Telur dan Ayam Profesor Mari Musang



Musang juga disebut luak. Panjang ekornya lebih kurang satu meter, warnanya coklat tua dengangaris dan belang hitam.  Musang terdapatdi daerah-daerah mulai dari India sampai Indonesia.  Makannya berupa serangga, telur, ayam, danbuah-buahan.


Professor Mari Musang adalah gurubesar ilmu hewan pertama dari kalangan musang. Ia mengajar di perguruan tinggi Universitas Rimba Raya (URR).  Selain berprofesi sebagai pengajar, ia jugaibu bagi tiga ekor musang kecil yang sangat cerdas.  Suaminya telah lama meninggal dunia karenaterkena perangkap Pak Jono pemilik peternakan ayam.  Prof. Mari yang semenjak remaja sudahterkenal karena kecerdasannya, bekerja keras membanting tulang dan menuntutilmu agar dapat menghidupi dan membesarkan anak-anaknya.
Walhasil, segala kerja keras prof.Mari kini mulai berbuah.  Ia berhasilmenjadi seorang guru besar yang berpengaruh dan terkenal di seantero rimbaraya.  Anak-anaknya pun tumbuh menjadimusang-musang yang berakhlak mulia dan mencerminkan kecerdasan lahirbatin.  Meskipun Prof. Mari sangat sibuk,ia selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan ketiga anaknya, khususnyapada saat-saat mereka makan bersama.
Setiap kali mereka mengelilingimeja makan, Prof. Mari akan selalu melontarkan pertanyaan kritis untuk dijawabbersama-sama.  Tiko, Tika, dan Tiki,demikian nama ketiga anak Prof. Mari secara berurutan, sangat senang berdebatdan beradu argumentasi.  Prof. Marisering merasa takjub mendengar jawaban-jawaban anaknya yang di luar dugaan.
Malam ini, Prof. Mari mengajukansebuah pertanyaa filosofis yang sering diperdebatkan di perguruan dan dikalangan para ahli filsafat.
“Manakah yang lebih dulu, teluratau ayam?” Tanya Prof. Mari.
Tiko, Tika, dan Tiki salingmenyunggingkan senyum, bahkan akhirnya Tiko tak mampu menahan diri dan tertawaterbahak-bahak.
“Ibu, Ibu… pertanyaan semudah itukok diberikan pada kami, sih?”
Prof. Mari terperangah karena tidakmenduga akan mendapatkan respons seperti itu.
“Apakah kalian tahujawabannya?”  Ia membayangkan begitubanyaknya teori yang berusaha menjawab pertanyaan itu, tetapi tak satu pun yangmembuahkan hasil.
“Tentu saja kami tahu, Bu.  Jawabannya adalah jelas lebih dulu telur.”
“Mengapa bisa demikian?” TanyaProf. Mari penasaran.
“Ya tentu saja telur, Ibu.  Karena telur kita makan ketika sarapan danayam kita makan ketika makan siang dan malam.”
Prof. Mari tersenyum, “Memangsemakin repot kita memikirkan efek sebab-akibat, akan semakin sering pula kitamengabaikan fakta yang nyata-nyata tersaji di hadapan kita.  Terkadang jecerdasan itu justru muncul darikesederhanaan.  Teori relativitas,misalnya, justru dirumuskan dalam persamaan yang sangat sederhana.  Hanya melibatkan dua variable, yaitu massadan kecepatan cahaya.  Namun lihatlahm,dampaknya bisa mengubah wajah peradaban dan dunia.”
Anak-anak memang bisa berpikirjernih dan mampu melongok setiap masalah dengan apa adanya.  Mereka tidak dibebani pretense untukberprestasi dan memenangkan kompetisi. Mereka tidak memiliki masalah untuk mengeksistensikan diri sebagai suatubentuk aktualisasi. Dengan kata lain, mereka jujur terhadap diri sendiri danjuga terhadap orang lain.  Padahal, untukberprestasi dan menang dalam berkompetisi, kerapkali kita berbuat licik danmencurangi diri sendiri.
Pendek kata, semakin banyak kita menimbun dosa,semakin sulit pula kita untuk berpikir apa adanya.  Meskipun konsep “apa adanya” itulah yangsebenarnya merupakan kecerdasan paripurna.


Hikmah:  KESEDERHANAAN dan kejujuran adalah kunci darikejernihan pikiran.  Hanya saja, syaratuntuk menjadi jujur dan sederhanalah yang untuk sebagian dari kita, terasaberat.