Rabu, 09 Mei 2012

Sebentar Lagi Ayah Pulang


Terik matahari tak menyurutkan langkahku, langkah kami semua di atas aspal hitam ini.  Berderap melaju dengan pasti, langkah-langkah yang bersatu. Menuntut satu hal, menuntut keadilan.  Keadilan atas tetes keringat kami, keadilan atas waktu kami, keadilan atas kerja kami.  Kami hanya menuntut satu hal, menuntut keadilan.
—oo—
“Ayah, ayah! Adi lapar, Yah! Sudah seharian Adi sabar menunggu Ayah pulang membawa makanan, apakah Ayah membawa martabak manis pesanan Adi?” anakku yang paling bungsu, Adi, menagih janji meminta sekotak martabak manis favoritnya.  “Adi sayang, Ayahmu baru saja pulang, biarkan istirahat sejenak yah! Ayo sana mandi sore dulu ya, Nak!” istriku menyelamatkanku dari rengekan Adi.  “Tapi janji ya, Yah, setelah Adi mandi, Adi dapat hadiah martabak manis! Yeay!” Adi kegirangan berlari menuju kamar mandi, meninggalkan istriku yang tersenyum melihat keceriaannya, dan aku yang tertunduk, bingung bagaimana memenuhi janjiku pada anakku.
“Ayah,sudah dapat martabak manisnya?” istriku memberikan segelas air putih di gelas yang sudah sedikit retak.  Kupandangi sebentar air itu, keruh, tapi langsung kuminum dengan rakus seolah baru selesai melintasi padang Sahara.  “Boro-boro, Bu, tiga puluh ribu perak saja tidak sanggup! Semakin hari, entah kenapa nafas Ayah semakin berat, padahal Ibu tahu sendiri Ayah sudah berhenti merokok 6 bulan yang lalu! Kerja Ayah jadi tidak maksimal, upah yang didapat pun semakin berkurang!” Aku bekerja sebagai buruh bangunan.  Kontraktorku orang yang sangat perfeksionis.  Jika perfoma buruh yang dia pekerjakan diperhatikannya menurun, ia tidak segan-segan mengurangi gaji harian mereka.  Aku terbatuk, lalu istriku buru-buru mengambilkan lagi segelas air putih di gelas yang tadi kugunakan.  Setelah batukku reda, aku menatap sekeliling.  Rumahku, rumah impian yang kubangun bersama istriku.  Rumah yang telah menyimpan banyak kenangan.  Retak sana-sini di tembok, tak sempat kuperbaiki, tak ada dana! Gorden yang menyekat antar ruangan, seringkali hanya dijahit secara sederhana oleh istriku bila sobek ketika anak-anakku berlarian dan kaki atau tangan mereka tersangkut di gorden sehingga menyobeknya.  Rak TV yang kosong, karena baru saja seminggu yang lalu kami menjualnya untuk kebutuhan sekolah Marni, anak tertua kami yang duduk di bangku SMA.  Dia sebentar lagi lulus, dan demi kelancaran administrasi kami harus melunasi SPP yang sudah ditunggak selama 6 bulan ini.
“Hmm ya sudah, Ayah jaga kesehatan dari sekarang, jangan bekerja terlalu berat! Ibu juga sudah mulai bantu-bantu tetangga sekedar mencuci pakaian, atau menjaga anak-anak yang orang tuanya sibuk bekerja.  Pendapatannya lumayanlah, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari!” Istriku menenangkanku dengan senyumnya yang selalu membuatku jatuh cinta.  Ah, betapa indahnya hidup ini memandang senyumnya meskipun himpitan ekonomi semakin hari semakin menjadi-jadi.  Namun segera kusadari, di sudut-sudut matanya yang indah, mulai terlihat guratan-guratan lelah.  Di ujung bibirnya pun mulai muncul keriput.  Ah, istriku, maafkan aku yang belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk bidadari secantik dirimu.  Aku berjanji akan berusaha lebih giat lagi tak peduli badanku yang digerogoti lelah dan usia.  Izinkan aku membahagiakanmu! Janjiku sederhana di dalam hati sambil menatap senyumnya yang begitu indah sore ini.
“Terima kasih banyak, Bu.  Maafkan Ayah yang belum bisa memberi keluarga kita kehidupan yang lebih layak dari ini.  Mungkin kalau ayah bekerja lebih keras lagi, sedikit lagi saja, kita bisa berubah, Bu! Izinkan Ayah bekerja lebih keras ya, Bu! Sebentar lagi Marni lulus SMA, Adi pun akan naik ke kelas 2 SD, banyak hal yang harus kita persiapkan.  Omong-omong, tabungan kita ada berapa ya, Bu?” “Alhamdulillah, Yah, kemarin sudah Ibu hitung tabungan kita ada sekitar 1 juta rupiah, cukuplah kira-kira untuk bayar tunggakan Marni.  Syukur-syukur bisa membelikan sepatu juga untuk dia, kasihan Yah sepatunya sudah ditambal hampir sepuluh kali, Ibu tidak tega juga melihatnya.” Ah, banyak sekali hutangku pada keluargaku ini ya Allah! “Hmm baiklah kalau begitu, Ayah percayakan kepada Ibu ya tentang ini. Tolong belikan sepatu yang terbaik untuk Marni, supaya dia tidak malu saat kuliah nanti.  Kalau kurang tolong beri tahu Ayah, nanti Ayah carikan tambahan!” Tak lama kami mendengar derap lari Adi, dia sudah selesai mandi, mendatangi ruang tamu. “Ayah aku sudah mandi! Mana martabak manis pesananku?”  Aku hendak keluar rumah, berpura-pura mencari martabak untuk sekedar menjaga hati Adi, “Sebentar ya anakku sayang, Ayah keluar dulu mau beli martab… uhuk uhuk!!” Tiba-tiba aku batuk keras, tak biasanya begitu.  Tanganku menutup mulutku, kurasakan tanganku basah, ketika kulihat tanganku, berwarna merah, darah. Aku panik, tiba-tiba semua gelap.
—oo—
Di atas aspal hitam ini kami berteriak menuntut keadilan.  Atas nama solidaritas kami berkumpul menyatukan suara, menyatukan langkah.  Spanduk-spanduk berbahasa provokatif kulihat bertebaran di mana-mana.  Kami menuntut kenaikan UMR, peningkatan keselamatan kerja,peningkatan kesejahteraan buruh, dan penghapusan outsourcing.  Orang-orang yang tak kukenal saling berteriak.  Ada yang mengumbar sumpah serapah, makian, ada juga kaum wanita yang ikut serta, menangis.  Mataku menatap nanar ke sekeliling.  Di tengah terik siang, entah kenapa kurasakan ada kejanggalan.  Polisi yang sedang berjaga kulihat jumlahnya bertambah.  Mobil-mobil dengan meriam air dan gas air mata pun berdatangan.  Ketika kulihat ke puncak gedung-gedung pencakar langit di sekitar lokasi demonstrasi, aku  tertegun. Untuk apa diletakkan sniper di atas sana? Memangnya kami mau perang? Memangnya kami mau membakar kota ini? Entahlah.  Sejurus kemudian, yang kuingat orang di sebelahku terjatuh, kulihat lubang hitam kecil di pelipisnya, matanya melotot kosong dan mulutnya terbuka. Aku ngeri.
—oo—
Aku tersadar dengan infus di tanganku.  Sakit.  Dadaku masih terasa sakit, mulutku kering, kepalaku pusing.  Kuedarkan pandang ke sekeliling, kulihat di sebelah kiriku ada orang dengan gips dan perban tebal membebat kakinya dan diangkat 45 derajat.  Dia dikelilingi orang-orang yang kutebak sebagai sanak saudaranya.  Di sebelah kananku ada seorang pasien wanita berjilbab yang sedang tidur, dengan tangan diinfus sepertiku, dan seorang laki-laki yang kupikir suaminya, sedang membacakan al-Qur’an di telinga sang wanita.  Begitu fasih dan lembut, hatiku ikut tenang mendengar bacaan Qur’an lelaki itu.  Kemudian aku bertanya, kemana gerangan istriku atau anak-anakku?  Berapa lama aku pingsan? Di rumah sakit mana aku berada? BAGAIMANA aku bisa membayar semua ini?
Tak lama setelah kegamangan berkecamuk di benakku, pintu terbuka dan bidadariku masuk disusul dua sosok yang aku kenal, Adi dan Marni.  “Alhamdulillah Ayah sudah sadar.  Bagaimana kabar Ayah? Sudah baikan?” Tanya istriku. “Alhamdulillah, Bu. Sudah berapa lama ya Ayah pingsan? Dan ini di mana Bu? Siapa yang membawa Ayah ke sini?” aku bertanya cepat, sedikit panik.  “Ini di Rumah Sakit Cipto, Yah.  Para tetangga yang menggotong Ayah sampai mobil, kemudian dibawa sampai ke sini.  Ayah sudah pingsan seharian, dokter bilang Ayah kecapean, dan harus istirahat.  Dokter juga bilang paru-paru Ayah bermasalah dan harus diberi obat.  Ibu kemarin sudah mengusahakan meminjam ke majikan Ibu dan tetangga-tetangga sekitar kita, alhamdulillah cukup untuk bayar biaya opname dan obat!” istriku menjelaskan dengan sabar, senyumnya tetap menghiasi wajahnya.  “Astaghfirullah, salah apa Ayah sampai begini? Jadi kapan Ayah bisa pulang Bu? Kita tidak akan sanggup untuk bayar biaya opname semalam lagi!” aku mulai panik, membayangkan hutang yang takkan sanggup kami pikul. Kemudian istriku menangkanku, “Tunggu dokternya dulu Ayah, kalau menurut dokter sudah bisa pulang, baru Ayah pulang.”
Tak lama kemudian dokter datang dan mengabarkan bahwa aku terkena TBC.  Aku kaget dan tak percaya.  Dokter menyuruhku untuk opname sehari lagi, namun aku bersikeras untuk pulang berhubung aku tidak punya dana lagi untuk berobat.  Aku diizinkan pulang setelah membayar registrasi, sempat aku bersitegang dengan petugas apotek karena uang yang kami miliki kurang dua puluh ribu perak.  Setelah negosiasi alot, obatnya berhasil kami tebus.
Sesampai di rumah aku masih merasa lemas. Aku menyempatkan diri ke rumah Saparno, teman sesama buruh, di perjalanan pulang tadi, mengabarkan bahwa tadi aku tidak bisa masuk kerja karena sakit dan dirawat inap.  Dia sudah tahu kabar itu dan sudah disampaikan kepada kontraktor.  Namun ajaibnya, kontraktor tidak mau peduli hal itu dan malah mengurangi gaji harianku.  Aku pun semakin bingung.
—oo—
Suasana yang tadinya ramai tertib, berubah menjadi kekacauan.  Orang-orang berlarian menyelamatkan diri sendiri, tak peduli bahwa pada awalnya kami semua berangkat dengan satu langkah, satu tujuan.  Sikut kiri, sikut kanan, dorong kiri, dorong kanan, ada yang terjatuh, diinjak saja kepalanya, punggungnya, kakinya, sampai sesak dan tak bernafas lagi.  Aku panik, mencoba tenang, tapi tak bisa! Aku ikuti arus, berbalik arah menuju tempat pemberangkatan kami tadi pagi.  Spanduk-spanduk berjatuhan di jalan, sorak-sorai yang padu berubah menjadi lolongan-lolongan kesakitan minta tolong. Mengerikan!
Aku berlari, berlari sekuat tenaga, tak peduli paru-paruku pecah, yang penting aku selamat, aku terus berlari! Tak terhitung berapa badan yang kuinjak, berapa seruan tolong yang kulewatkan, ampuni aku ya Allah! Aku hanya ingin melihat senyum istriku, bidadari duniaku menyambutku di depan rumah, membawakanku segelas air putih keruh dengan gelas yang sedikit retak.  Aku ingin melihat wisuda Marni, dia sebentar lagi wisuda! Aku pun ingin melihat Adi mengenakan seragam putih-biru dengan raut bangga di wajahnya sambil bersorak, “Ayah, aku sudah SMP!”  Semakin banyak kelebat bayang-bayang impian di benakku, semakin berat aku rasakan paru-paruku menyuplai oksigen ke tiap organ tubuhku.  Setelah divonis TBC oleh dokter 4 tahun lalu, pernafasanku menjadi sangat sensitif.  Pandanganku berkunang-kunang, kakiku lemas, nafasku megap-megap, aku tak berdaya lagi, aku tak mampu berlari lagi.  Kuambil langkah-langkah kecil, kadang orang di belakangku menyedakku dan mendorong tubuhku.  Kupertahankan keseimbanganku, aku hanya berpikir, “Aku harus pulang!” Tak lama, aku tak sanggup berjalan, aku berlutut, dan jatuh tertelungkup, mencium aspal hitam yang sedari tadi kuinjak.  Dari belakangku, aku mendengar derap langkah ribuan orang yang berlarian panik.  Senyum istriku, senyum anak-anakku, terbayang lagi.  Mereka seakan sedang menunggu kehadiranku di rumah, mereka menunggu di depan rumah, berdiri bersama-sama, siap menyambutku dengan senyum termanis mereka.  Sebentar saja ya, Ibu, Marni, Adi, Ayah sedikit lelah, Ayah mau rebahan sebentar saja di aspal hitam yang panas dan kasar ini. Setelah Ayah istirahat, Ayah janji akan pulang ke rumah, pasti! Makanya, sebentar saja ya.  Sebentar saja.