Selasa, 05 September 2017

Journey Beyond the Lands #7: Hare Otoko

Nenek moyang orang Jepang adalah bangsa agraris, hidup dari kegiatan bertani dan bercocok tanam, sejak dahulu sangat bergantung dengan perubahan cuaca dan musim. Jepang yang memiliki 4 musim (panas, gugur, dingin, semi) yang setiap musimnya punya ciri khas sangat berbeda dibandingkan musim lainnya, sangat terkejawantah dalam keseharian orang Jepang, mulai dari sapaan sehari-hari, fashion, sampe menu makanan dan minuman di restoran, atau sekedar bir pun ada produk seasonalnya. Well you can say, Japanese are, season-freak.

Saking freaknya mereka soal cuaca, mereka percaya bahwa ada orang-orang yang bisa "membawa" cuaca tertentu di setiap kehadirannya. Ada istilah, hare otoko, hare onna, ame otoko, ame onna (hare=cerah, ame=hujan, otoko=laki-laki, onna=perempuan). Jadi, secara harfia, hare otoko artinya adalah laki-laki cerah, ame otoko artinya, laki-laki hujan, dan seterusnya. Istilah ini biasa dipakai kalo orang Jepang mau ngadain acara outdoor. Misal, "Wah kita harus ajak si A nih, dia kan hare otoko, kalo ajak dia ga bakal ujan besok." Atau sebaliknya, "Wah besok bau-baunya harus bawa payung nih, soalnya si B, si ame onna, bakal ikutan."

Sebagai info bonus, selain "mempercayai" konsep hare ame onna otoko ini, orang Jepang mengenal juga yang namanya teruterubouzu, boneka yang dianggap bisa 'menangkal' hujan jika keesokan harinya akan diadakan acara outdoor. Dulu, semasa hoikuen di Jepang, sering bikin yang beginian kalau besoknya ada acara piknik atau hari Olahraga. Buatnya gampang, cukup sediakan 2 lembar tisu, trus tisu yang satu digumpal-gumpal, tisu yang satu lagi dipake ngebungkus tisu yang pertama. Iket pake karet atau tali, dan tinggal dikasih mata dan mulut pake spidol/pensil, voila, jadi deh. Lalu teruterubouzu yang udah jadi, gantung di jendela untuk menangkal hujan. Atau sebaliknya, kalau ingin besoknya hujan, gantungnya tinggal dibalik, kaki di kepala, kepala di kaki. Jepang, yang perkembangan teknologinya udah melesat jauh dari Indonesia, kok ya masih percaya beginian yah. 不思議だね。

Trus kenapa bawa topik ini? Well, soalnya, pas kemarin naik gunung Fuji (untuk ke-3 kalinya), ada hal menarik yang terjadi.
Jas hujan adalah salah satu kelengkapan naik gunung Fuji yang harus ada, karena kalo udah kena hujan, dan ga punya jas hujan, khatam hidup kamu Sob sebagai pendaki gunung.
Kalo dirunut, sejarah naik gunung Fuji gua, dimulai dari tahun 2014, istirahat 1 tahun, naik lagi 2016, lalu yang paling baru, tahun 2017. Dan jas hujan yang di foto itu, gua beli persis di tahun 2014! Means, ini jas hujan udah berumur 4 tahun tan belum dibuka sama sekali, dan setiap gua naik gunung Fuji, selalu dalam keadaan cerah. Bahkan pas naik kemarin, pas dateng kondisinya udah ujan dan gerimis turun, temen-temen yang lain udah siap dan naik pake jas ujan, sedangkan gua sendirian pede ga pake jas ujan, karena yakin pas naik dikit, ujannya akan berenti.

Dari pos 5 menuju ke 6, memang hujan gerimis sih, dan gua pun antara maju mundur pake atau ga pake jas ujan. But for the sake of conveniences, gua milih buat ga pake. Akhirnya, lepas pos 7, semua nyerah dan lepas jas hujan. Dan sampai keesokan harinya pun, kita mendaki dengan tenang tanpa gangguan hujan sedikitpun. Sedangkan Afif, teman perjalanan kali itu, baru ndaki Fuji 2 minggu sebelumnya, dengan kondisi basah kuyup gara-gara hujan, begitupun 1 tahun sebelumnya.

Mungkin, gua bisa dengan bangga bilang, kalo gua adalah, hare otoko.

tentang mendaki gunung fuji

Senin, 24 Juli 2017

復習

さっきちょっと今まで掲載したスレッドさっと読んできたけど。。。
俺のジョークや書き方あっま変わんないな^^;
自分は成長してないってうことなのかww
ちょっとシリアスな話しょっか。

Sabtu, 22 Juli 2017

Journey Beyond the Lands #6: Opname (part 1)

(Disclaimer: Tulisan ini akan puaannjuaang banget jadi siapkan cemilan dan jus jerukmu, dan mungkin ada beberapa bagian yang kurang mengenakkan bagi sebagian orang. I warned you ;) )

10 Februari 2017, waktu itu gua lagi mandi, siap-siap mau berangkat soljum. Tiba-tiba pas beres mandi, teeenggg (e-nya bacanya kayak baca rujak bebek yah, bukan e-nya bebek #hayolobingung) kepala tiba-tiba pusing, akhirnya mutusin ga berangkat soljum, cukup zuhur di kamar aja, abis itu minum paramex, bobo siang. Semingguan itu memang badan kerasa kurang enak, entah kenapa. Pikirnya ya masuk angin biasa, ya maklum namanya pejuang skripsi yah, penyakitnya apasih. Akhirnya cuma minum Tolak Angin (karena gua pintar #plak), dan emang sih kerasanya kuping panas, terus agak meriang-meriang gitu, tapi berhubung di kamar ga ada thermometer, jadinya gua gabisa ngukur suhu badan sendiri.

Jumat, 30 Juni 2017

Bahagia Receh

Apa sih arti kebahagiaan? Kalo ditranslate ke bahasa inggris, jadi happy. Nah uniknya, kalo ditranslate ke bahasa Jepang, jadinya 幸せ(shiawase), sedangkan kalau 辛さ(tsurasa) yang kanjinya agak-agak mirip dengan shiawase (kebahagiaan), artinya adalah bitterness, atau kesulitan, kepayahan. Betapa, orang Jepang paham bahwa kebahagiaan dekat dengan kesulitan/kepayahan, pun sebaliknya (ngartiin seenak udel #plak).

Belakangan, arti kebahagiaan buat sebagian orang sepertinya makin terdistorsi, makin menjadi kabur dan buyar. Kenapa? Mungkin karena begitu mudahnya informasi disampaikan lewat media sosial yang hampir semua orang yang tinggal di kota, atau bahkan di desa-desa (terpencil) pun, bisa mengaksesnya. Orang-orang melihat kehidupan orang lain, yang indah-indah dan yang di-upload saja, dan seakan mencerminkan (parsial) kehidupan orang lain ke kehidupan dirinya sendiri, which is toxic. Contohnya adalah instagram, yang baru-baru ini dinobatkan sebagai media sosial yang paling merusak jiwa remaja.

Well, bagi gua sendiri, setelah tinggal di Jepang selama 4 tahun lebih, sepertinya masih agak kagok buat menerjemahkan kebahagiaan. Sempet denger cerita dari senpai, bahwa doi sedikit nyesel (?) karena 5 tahun lebih waktunya di Jepang dirasa kurang dimanfaatkan semaksimal mungkin (?). Entah gimana si senpai menghabiskan waktunya di sini, tapi gua di saat itu, merefleksikan dan menanyakan diri sendiri pertanyaan itu, "今まで日本の生活、満足したの?(Are you satisfied with your life in Japan up till now?)"

Yappari, mungkin arti "bahagia" buat gua sendiri adalah ketika gua puas dengan cara gua melewati (?) kehidupan. Gua di saat itu, yang udah, well, melancong ke beberapa wilayah di Jepang, ngerasain beberapa jenis kerja part time, ditolak dan gagal ikut seleksi part time, ikut organisasi ini itu, bisa interview artis lewat Radio PPI Dunia; I felt enough and fulfilled, that time.  でもね、やっぱり今のところ再び振り替えしたら、やっぱ、まだ足りないなって感じてる、もっとがんばればよりたくさんのことできたのに、よりいい経験味わえたのに。

Beberapa saat belakangan, ga lebih dari 1 tahun lalu mungkin, teknologi WA Keluarga masuk ke keluarga besar, dan gua yang selama ini 'terisolir' karena ketemu keluarga 1 tahun 1x, itu pun belum pasti ketemu, 改めて幸せの「意味」を分かるようになった, I re-learnt the meaning of happiness.

Easily speaking, ada 2 orang sodara dari mama, yang, well, gagal menjalani pernikahan dan bercerai dari pasangannya. Dulu, waktu gua masih kecil dan imut (sekarang juga masih imut tapi udah gede, apanya ya), sering diajak jalan-jalan, entah ke Puncak, Cibodas, kemana aja, naik mobil dan sering dipangku buat "nyetir" mobil. Karena beliau kerja di sebuah perusahaan percetakan gitu, jadi dulu sering banget dapet majalah sisa macem Animonster dan majalah yang bahas anime2 gitu (damn son it is so nostalgic). It was the happiness back then, and also for her.

Tapi sekarang, semenjak negara api menyerang, beliau jadi "gabisa dipahami", dan semua yang udah dibangun bertahun-tahun runtuh begitu aja. Well, long story short, what reshape my view towards happiness was, dia ngajak jalan anaknya dan keponakan yang lain buat ke Ragunan, foto-foto di sana, share ke grup keluarga, and that's it. Buat gua yang 5 tahun hidup sebagai orang Jepang, hidup sendiri, it is like, "eh? lalu?" Tapi lagilagi, yappari, that is enough happiness for them, to get out from everyday life's routine and relax. Ah... mungkin, itu kali yah cara menemukan kebahagiaan.

Keluar dari rutin.
Receh sih. Tapi...
まあ、いやっ。

Rabu, 15 Maret 2017

HAPPINESS - me digging on it, you should too

Do you like, or believe in vampire?
Do you like darkish themed story?
Can you stand a little bit gore (depends on person) - blood, sadistic scene, and stuff?
Can you be patient to wait the new volume to come out MONTHLY?
Well, I believe those on my blog and who can understand this, I considered them to be adult enough so it should be safe for you to consume (maybe).